Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

02 Juli 2008

DAULAH ABBASIYAH

(Asal Usul dan Kemajuan dalam Bidang Ilmu Pengetahuan)

A. Pendahuluan

Daulah Abbasiyah didirikan secara revolusioner dengan menggulingkan kekuasaan Daulah Umaiyah yang saat itu dipimpin oleh khalifah Marwan II bin Muhammad.

Kekuasaan Daulah Abbasiyah berlangsung dalam waktu yang cukup panjang sejak tahun 132 H – 656 H / 750 M – 1258 M. Dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah ada tiga dinasti yang pernah memgang kekuasaan (tampuk pemerintahan) yaitu Dinasti Bani Abbas, Bani Buwaihi dan Bani Saljuk, dengan khalifah sebanyak 37 orang.

Pada masa Daulah Ababsiyah ini tercapainya peradaban yang gilang gemilang dan juga merupakan puncak kejayaan negara Islam. Puncak popularitas Daulah Abbasiyah berada pada zaman pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid dan puteranya Al Makmum.

Namun demikian Daulah Abbasiyah juga mengalami kemunduran dan kehancuran, disaat datangnya penyerangan bangsa Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan pada tahun 1258 M. Mereka tidak saja menghancurkan kota Bagdad tapi juga menghancurkan peradaban Islam yang telah maju dengan pesatnya. Dengan begitu berakhirlah kekuasaan Daulah Abbasiyah.

B. Asal Usulnya

Bani Abbas telah mulai melakukan upaya perebutan kekuasaan sejak masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) berkuasa.[1] Khalifah itu dikenal liberal dan memberikan toleransi kepada kegiatan keluarga Syiah. Gerakan itu didahului oleh saudara dari Bani Abbas seperti Ali bin Abdullah bin Abbas, Muhammad serta Ibrahim Al Iman, yang semuanya mengalami kegagalan. Usaha perlawanan itu berhasil di tangan Abu Abbas setelah melakukan pembantaian terhadap seluruh Bani Umaiyah termasuk khalifah Marwan II yang sedang berkuasa. Dengan demikian maka berdirilah Daulah Abbasiyah yang dipimpin oleh khalifah pertamanya Abu Al Ababs As Saffah.

Dinamakan Khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti terbanyak didirikan oleh Abdullah Al Saffah bin Muhammad ibn Ali bin Abdullah bin Al Abbas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M-656 H (158 M).[2]

Adapun penyebab keberhasian berdirinya khilafah Abbasiyah adalah karena mereka berhasil menyadarkan kaum muslimin pada umumnya, bahwa Bani Abbas adalah keluarga yang dekat kepada Nabi Muhammad SAW dan bahwasanya mereka akan mengamalkan Al Qur`an dan Sunnah Rasul serta menegakkan Syariat Islam.[3]

Ketika Abu Abbas As Saffah dibai`at sebagai khalifah di kota Kufas tahun 132 H dalam pidato pertamanya setelah menyebutkan tentang kezaliman yang dilakukan Bani Umaiyah, ia berkata “Dan seeungguhnya aku berharap kalian tidak akan lagi didatangi oleh kezaliman, pada saat kebaikan telah datang kepadamu, tidak pula kehancuran pada saat perbaikan telah datang mengunjungimu”.[4] Setelah itu bediri pula Daud bin Ali, paman As Saffah menegaskan di hadapan orang banyak dan berjanji “ Dengan ini kami berjanji kepada kalian demi kesetiaan kami kepada Allah dan RasulNya dan demi kehormatan Abbas, untuk memerintah di kalangan kalian sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah, melaksanakan kitab Allah dan berjalan baik di kalangan umum ataupun khusus dengan teladan Rasulullah SAW. Namun demikian belum lama sebaliknya dan ternyata hanya tipu muslihat belaka.

C. Corak Pemerintahan Daulah Abbasiyah

Pada awal kekhalifahannya, Abbasiyah kota Kuffah dijadikan sebagai pusat pemerintahan, dengan Abu Ababs As Saffah 750-754 M sebagai khalifah pertama. Pengembangan dalam arti yang sesungguhnya dilakukan oleh penggantinya yaitu Abu ja`far Al Mansur 754-775 M. Dia memerintah dengan kejam, yang merupakan modal bagi tercapainya kejayaan Daulah Abbasiyah.

Untuk menunjang langkah masa kejayaan, beberapa kebijakan dilakukan oleh khalifah Abu Ja`far Al Mansur, antara lain :

o Memindahkan ibu kota Bagdad

o Perbaikan di bidang administrasi pemerintahan disusun dengan baik

o Pengawasan terhadap berbagai kegiatan pemerintahan diperketat

o Ptugas pos-pos komunikasi dan surat menyurat ditingkatkan fungsinya menjadi lembaga pengawas terhadap para gubernur.[5]

Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gerakan separitis dan pemberontakan.

Dalam beberapa hal corak pemerintah Daulah Ababsiyah memiliki kesamaan dan perbedaan dengan Daulah Umaiyah. Sebagaimana yang terjadi pada masa Daulah Umaiyah misalnya, para bangsawan cenderung hidup mewah, mereka gemar memelihara budak belian dan istri peliharaan. Kehidupan lebih cenderung pada kehidupan duniawi ketimbang mengembangkan nilai-nilai Islami. Walaupun ada sebagian khalifah yang taat beragama dan memiliki selera seni yang tingggi.[6]

Pemerintahan kekhalifahan bani Abbasiyah bertumpu pada banyak sistem yang pernah dipraktekkan oleh bangsa sebelumnya baik yang muslim maupun yang non muslim. Pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda, sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itulah para sejarwan membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode, yaitu :

1. Periode pertama (132 H/750 M-232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama

2. Periode kedua (232 H/847 M-334 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama

3. Periode ketiga (334 H/945 M-447 H/1055 M), masa kekuasaan Dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua

4. Periode keempat (447 H/1055 M-590 H/1194 M), masa kekuasaan Dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua

5. Periode kelima (590 H/1194 M-656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaanya hanya efektif di sekitar kota Bagdad.[7]

Sedangkan menurut asal usul penguasa selama 508 tahun Daulah Abbasiyah mengalami tiga kali pergantian penguasa yaitu, Bani Abbas, Bani Buwaihi dan Bani Saljuk. Kenyataan itu menunjukkan bahwa masa pemerintahan itu diwarnai oleh intrik istana maupun perebutan kekuasaan secara internal.[8]

Pada periode pertama pemerintahan Dinasti Abbasiyah masih menekankan pada kebijakan perluasan daerah. Dasar pemerintahan dinasti ini dilaksanakan dan dibangun oleh Abu Abbas As Saffah dan Abu Ja`far Al Mansur sedangkan puncak keemasannya berada pada khalifah sebelumnya, sejak masa khalifah Al Mahdi (775-785) hingga khalifah Al Wasiq (842-847).[9]

Faktor penyebab Daulah Ababsiyah pada periode pertama ini berhasil mencapai masa keemasan adalah karena terjadinya asimilisasi dalam Daulah Abbasiyah yaitu ikut berpartisipasinya unsur-unsur non Arab terutama bangsa Persia.[10]

Dalam periode ini sebenarnya banyak gerakan politik yangb mengganggu stabilitas, baik daeri kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Mereka merupakan sisa-sisa kekuatan Dinasti Umaiyah dan kalangan internBani Abbas. Disamping itu terdapat pula kekuatan revolusioner kaum khawarij di Afrika Utara, kekuatan oposisi lain adalah gerakan kaum Zindik di Persia dan gerakan Syiah. Semua kekuatan oposisi itu berhasil dipadamkan.[11]

Selanjutnya untuk memperkokoh kedudukan khalifah secara koneptual dinyatakan bahwa khalifah bukan lagi khalifah fil ardh atau wakil Allah di Bumi. Semboyan baru yang dipakai adalah Sulatan Alalh fil ardh, artinya pemegang kekuasaan Allah di atas bumi.[12]

Pada periode kedua (847-945 M) ini, orang-orang Turki dapat merebut kekuasaan dengan mudah, karena khalifah Al Mutawakil adalah seorang khalifah yang lemah. Mereka telah memilih dan mengangkat khalifah sesuai dengan kehendak mereka. Dengan demikian Bani Abbasiyah tidak lagi mempunyai kekuasaan meskipun resminya merekalah penguasa. Usaha untuk melepaskan dari dominasi tentara Turki itu selalu gagal.[13] Dari dua belas khalifah pada periode ini, hanya empat orang khalifah yang wafat dengan wajar, sedangkan selebihnya kalau tidak dibunuh, mereka didulingkan dengan paksa.[14]

Pada periode kedua ini pem,berontakan masih bermunculan seperti pemberontakan Karamitah yang berpusat di Bahrain. namun demikian bukan itu yang menjadi pengahalang terwujudnya kesatuan politik Daulah Abbasiyah. Faktor penting penyebab kemunduran Bani Abbas pada periode ini adalah :

Pertama, luasnya wilayah kekuasaan daulah Abbasiyah yang harus dikendalikan, sementara komunikasi lambat. Berbarengan dengan itu kadar saling percaya dikalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah.

Kedua, prfesionalisasi tentara menyebabkan ketergantungan kepada mereka sangat tinggi.

Ketiga, kesulitan ekonomi atau keuangan karena beban pembiayaan tentara sangat besar.[15]

Pada periode ketiga ini posisi Daulah Abbasiyah berada di bawah kekuasaan bani Buwaihi. Keadaan khalifah lebih uruk ketimbang pada masa sebelumnya, lebih karena Bani Bbuwaihi menganut aliran Syiah. Akibatnya kedudukan khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang diperintah dan diberi gaji. Bani Buwaihi telah membagi kekuasaanya kepada tiga bersaudara. Ali menguasai wilayah bagian selatan negeri Persia, Hasan menguasai wilayah bagian utara, Ahmad menguasai Wil Al Ahwaz, Wasit dan Bagdad. Dengan demikian Bagdad pada periode ini tidak lagi merupakan pusat pemerintahan karena telah pindah ke Syiraz, disana berkuasa Ali bin Buwaihi yang memiliki Bani Buwaihi.

Periode keempat ditandai oleh kekuasaan Bani saljuk dalam Daulah Ababsiyah. Kehadiran Bani Saljuk ini adalah atas undangan khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaihi di Bagdad. Dalam bidang politik, pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Bagdad. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa provinsi dengan seorang gubernur untuk mengepalai masing-masing provinsi tersebut. Pada masa pusat kekuasaan melemah, provinsi-provinsi tersebut memerdekakan diri. Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi agar mereka menyebabkan kelemahan mereka sendiri dan kekuasaan mereka pun berakhir dan kekuasaan politik khalifah menguat kembali.

Pada periode kelima ini khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan suatu dinasti tertentu. Mereka merdeka dan berkuasa tetap hanya di Bagdad dan sekitarnya. Pada masa inilah datang tentara Mongol dan Tartar menghancurkan Bagdad tanpa perlawanan pada tahun 656 H/1258 M.[16]

Faktor-faktor penyebab hancurnya Daulah Abbasiyah adalah :

1. Faktor-faktor Intern :

· Adanya persaingan tidak sehat di antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah, terutama Arab, Persia dan Turki.

· Terjadinya perselisihan pendapat di antara kelompok pemikir agama yang ada berkembang menjadi pertumbuhan darah.

· Muunculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan

· Terjadinya kemerosotan tingkat perekonomian sebagai akibat dari bentrokan politik.

2. Faktor-faktor Ekstern :

  • Berlangsungnya Perang Salib yang berkepanjangan dalam beberapa gelombang
  • Sebuah pasukan Mongol dan Tartaryang dipimpin Hulagu Khan berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu yaitu perpustakaan di Bagdad.[17]

D. Kemajuan dalam Bidang Ilmu Pengetahuan

Pada periode pertama pemerintahan Daulah Abbasiyah keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Pada periode ini juga berhasil landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan.[18]

Puncak popularitas Daulah Abbasiyah berada pada zaman Khalifah Harun Al Rasyid (786-809 M) dan puteranya Al Ma`mun (813-833 M). Mereka menekankan pada pembinaan dan pengembangan peradaban dan kebudayaan Islam ketimbang perluasan wilayah sebagaimana yang terjadi pada zaman Umaiyah.

Kekayaan yang banyak dimanfaatkan oleh harun al Rasyid untuk keperluan sosial, Rumah Sakit, lembaga pendidikan dokter dan farmasi didirikan. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta kesusteraan berada pada masa keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi.[19]

Al Ma`mun pengganti Harun al Rasyid sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahannya buku-buku asing digalakkan untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul Hikmah, pusat penerjemah yang berfungsi sebagai perguruan tinggi perpustakaan yang besar. Pada masa al Ma`mun inilah Bagdad menajdi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.[20]

Ada dua kelompok ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa Bani Abbas yaitu Ilmu Naqliyah dan Ilmu Aliyah. Di antara ilmu-ilmu naqliyah yang maju perkembangannya pada masa ini adalah sebagai berikut.[21]

1. Ilmu Tafsir

Pada masa ini muncul dua aliran yaitu, tafsir bil Ma`sur, yang menafsirkan ayat-ayat Al Quran dan hadist dan pendapat tokoh, sahabat dan tafsir bir rayi yang lebih banyak berpijak pada logika (rasio) dari pada nash.

Ulama tafsir yangb terkenal pada masa ini ialah Ibnu Jarir Al Thabari dengan karangannya Jami` al Bayan fi tafsir Al Quran, al Baidhwi dengan karangannya Ma`alim al Tanzil, al Zamakh Syari dengan karangannya al Kasaf, al Razi dengan karangannya al Tafsir, al Kabir dan lain-lain.

2. Ilmu Hadist

Pengumpulan dan pembukuan hadist sudah mulai sejak pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz, salah seorang khalifah Bani Umaiyah. Namun demikian perkembangannya yang paling menonjol terjadi pada masa Daulah Abbasiyah, sebab pada masa inilah munculnya ulama-ulama hadist yang belum ada tandingannya sampai zaman sekarang. Di antaranya yang terkenal ialah Imam Bukhari yang telah mengumpulkan hadist sebanyak 7257 hadist, setelah diteliti ditemukan 4000 hadist shahih, semuanya terkumpul dalam bukunya, Shahih Bukhari, Imam Muslim terkenal dengan bukunya Shahih Muslim. Buku hadist lainnya adalah Sunan Abu Daud oleh Abu Daud, Sunan al Turuzi oleh Imam al Turmuzi, Sunan al Nasa’i oleh al Nasa’I. Sunan Ibnu majah oleh Ibnu Majah. Keenam buku hadist tersebut lebih populer disebut Kitan al Sittah.

3. Ilmu Kalam

Pada masa daulah Abbasiyah umat Islam bergaul dengan bangsa-bangsa yang telah tinggi peradabannya. Oleh karena itu ulama-ulama dituntut agar dapat memberi keterangan dan penafsiran agama yang sesuai dengan tingkat kecerdasan dan peradaban bangsa-bangsa tersebut. Lahirlah beberapa orang ulama dari golongan Mu’tazilah seperti Washil bin Atha’, Abu Huzail dan Al Nazham. Abu hasan al Asy’ari, ulama ilmu kalam yang terkenal dan sangat berpengaruh sampai sekarang. Kemudian muncul pula ulama-ulama pendukung Abu Hasan al Asy’ari yang disebut dengan aliran Asy’ariyah seperti al Juwaim dan Imam al ghazali.

4. Ilmu Fikih

Dasar-dasar ilmu fikih disusun pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah oleh ulama yang terkenal dan masih besar pengaruhnya sampai sekarang, seperti Imam Abu Hanifah yang lebih cenderung memakai akal dan Ijtihad, Imam malik bin Anas lebih cenderung memakai hadist dan menjauhi sampai batas tertentu pemakaian rasio, Imam Ahmad bin Hanbal yang merupakan tokoh aliran fikih yang keras dan kurang luwes.

5. Ilmu Tasawuf

Dalam bidang ini ulamanya antara lain : Al Ghazali seorang ulama sufi dengan karyanya yang masih beredar dan berpengaruh sampai sekarang yaitu buku Ihya ‘ulumuddin yang sebanyak lima jilid, Al Hallaj dengan bukunya al Tashawuf, Al Qusyairiyat fi Ilmu al tashawuf.

Ilmu-ilmu Aqliyah yang paling menonjol perkembangannya pada masa Daulah Abbasiyah adalah :

1. Ilmu Filsafat

Khalifah harun al Rasyid dan al makmun adalah di antara khalifah Bani Abbasiyah yang amat tertarik dengan filsafat Aristoteles dan Plato. Di antara filosof yang terkenal pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah adalah al Nindi al farabi, Ibnu Sina dan Imam al Ghazali. Al Farabi dianggap sebagai guru kedua di bidang filsafat setelah Aristoteles.

2. Ilmu Kedokteran

Ilmu kedokteran telah ada sejak pemerintahan Daulah Umaiyah, terbukti dengan adanya sekolah tinggi kedokteran yuudisapur dan Harran yang merupakan peninggalan orang Syria. Pada masa Daulah Abbasiyah perhatian khalifah semakin meningkat terhadap ilmu kedokteran dan mendorong para ulama untuk mendalami ilmu ini. Ilmuwan muslim dalam bidang ini antara lain al Hazen, ahli mata dengan karyanya optics dan Ibnu Sina dengan bukunya Qamm fi Tibb.

3. Ilmu Fisika dan Matematika

Dalam bidang ilmuwan yang terkenal sampai sekarang seperti al khawarizmi, al Farqani dan al Biruni. Al Khawarizmi dengan bukunya al jabr dan al Mukabala yang merupakan buku pertama sesungguhnya ilmu pasti yang sistematis. Dari bukunya inilah berasal istilah aljabar dan logaritma dalam matematika. Bahkan kemajuan ilmu matematika yang dicapai pada masa ini telah menyumbangkan pemakaian angka-angka Arab dalam matematika.

4. Ilmu Astronomi

Ulama yang terkenal dalam bidang ini adalah al Farqon dengan bukunya al Harkat, al Samawat, al Jamawi’, Ilmu al Nujum dan al Bottani dengan bukunya Tahmid al Mustaar, li Ma’na, al Mamar dan lain-lain.

5. Ilmu Sejarah dan Geografi

Dalam bidang sejarah, ulama yang terkenal : Ibu Ishaq, Ibnu Hisyam, al Waqidi, Ibnu Qutaibah, al Thabari dan lain-lain. Dalam bidang ilmu bumi atau geografi ulama yang terkenal : al Yakubi dengan karyanya al Buldan, Ibnu Kharzabah dengan bukunya al mawalik wa al Mawalikdan lain-lain.

Disamping ilmu-ilmu di atas teknologi pun berkembang pada masa Daulah Abbasiyah, antara lain : Teknik Mesin, Teknik Sipil, Teknologi Militer, Teknologi Kimia, Teknologi Industri dan Pertambangan.

Faktor-faktor pendorong kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa Daulah Abbasiyah antara lain :

1. Perhatian pemerintah yang besar terhadap kemajuan ilmu pengetahuan

2. Strategi kebudayaan rasionalisme (kebebasan berpikir) di kalangan umat Islam

3. Kemakmuran dan ekonomi yang baik

4. Stabilitas politik

5. Motivasi ajaran agama Islam

6. Pandangan yang tepat terhadap ilmu pengetahuan[22]

E. Penutup

Kesimpulan

Pada masa Daulah Umaiyah dunia mulai mengenal peradaban dan kebudayaan Islam. Dan pada masa Daulah Abbasiyah mengalami kemajuan dan mencapai peradaban yang gemilang dalam sejarah Islam dimana pada masa ini dikenal berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, baik ilmunya masing-masing.

Prestasi ini menaikkan derajat Islam dan membuktikan bahwa Islam memiliki para ulama yang cerdik dan berkuasa di dunia pendidikan. Bahkan di antara mereka para ulama tersebut ada yang sampai sekarang masih di gunakan karya-karya mereka sebagai pedoman agar tidak keluar dari ajaran sesungguhnya.

0 komentar:

Popular Posts